Belajar Dari Mana Saja di tamanpustaka.com

Mulai Belajar

AGRIBISNIS PERIKANAN

Persiapan Memulai Usaha Perikanan

Wiwin Junaidah, 09 - Januari - 2022 573

Memastikan Kondisi Lahan Kesesuaian Lahan dengan Bentuk Kegiatan Usaha Faktor Lain Terikat Merancang Bentuk Usaha Bentuk Usaha di Perairan Sungai Bentuk Usaha di Perairan Tergenang Bentuk Usaha di Kolam Tebat Tambak Bentuk Usaha di Lahan Tanah


blogs-images

Setelah lahan ditentukan, ada hal-hal penting yang harus diperhatikan sebelum usaha dimulai. Hal penting tersebut adalah memastikan kondisi lahan yang telah dipilih, menentukan rancangan usaha, dan menentukan jenis komoditas yang akan diusahakan.

Daftar Isi :

  1. Memastikan Kondisi Lahan
    1. Lokasi Lahan
    2. Kesesuaian Lahan dengan Bentuk Kegiatan Usaha
    3. Faktor Lain yang Terikat
  2. Merancang Bentuk Usaha
    1. Bentuk Usaha di Perairan Sungai
    2. Bentuk Usaha di Perairan Tergenang
    3. Bentuk Usaha di Kolam, Tebat, atau Tambak
    4. Bentuk Usaha di Lahan Tanah
  3. Menentukan Jenis Usaha Budidaya
    1. Usaha Pembenihan
    2. Usaha Pembesaran

A. Memastikan kondisi Lahan

Untuk memulai suatu usaha baik di lahan luas atau sempit, tentu membutuhkan teknik atau cara memanfaatkannya. Hal-hal yang harus dipertimbangkan agar pemanfaatan luas lahan tersebut dapat menghasilkan produk perikanan yang sesuai pasaran dan menghasilkan keuntungan yang maksimal, yaitu sebagai berikut.

1. Lokasi lahan

Kondisi lokasi lahan sangat menentukan kegiatan budi daya, ikan yang akan dibudidayakan, dan biaya yang akan dikeluarkan. Oleh karena itu, lokasi lahan yang akan dimanfaatkan untuk usaha budi daya perlu diperhatikan. Sumber air yang akan dimanfaatkan serta kualitas dan kuantitasnya sepanjang tahun juga perlu diperhatikan.

Sebagai contoh, apabila lahan berada di wilayah pantai dengan air bersalinitas di atas 5 ppt, ikan yang dibudidayakan adalah ikan yang dapat hidup dengan kisaran salinitas di atas 5 ppt, seperti bandeng, kerapu, kakap, atau udang windu. Demikian juga dengan lahan yang ada di daerah yang memiliki ketinggian dari permukaan laut cukup tinggi, suhunya relatif rendah. Pada lokasi tersebut, hanya ikan-ikan tertentu yang mampu hidup dengan baik pada kondisi suhu rendah, misalnya ikan mas.

2. Kesesuaian lahan dengan bentuk kegiatan usaha

Lahan yang digunakan harus sesuai dengan bentuk kegiatan usaha. Jika lahan tanah, usaha yang dilakukan dapat berupa pembuatan kolam untuk usaha pembenihan atau pembesaran. Kolam yang dibuat dapat berupa kolam permanen atau kolam terpal. Apabila berupa lahan perairan, usaha yang dilakukan lebih cenderung berupa pembesaran benih (pendederan) atau pembesaran ikan konsumsi. hampang, keramba, atau jaring apung. Jenis usaha lebih cenderung pembesaranbenih (pendederan) atau pembesaran ikan konsumsi.

pengawetan ikan

Source : pexels.com

3. Faktor lain yang terikat

Faktor lain yang berhubungan dengan kepastian kondisi lahan yang akan dijadikan lokasi usaha adalah sebagai berikut.

  • Jika merupakan lahan atau perairan umum, harus mendapatkan izin dari pemangku kepentingan tempat tersebut. Pemanfaatan lahan jangan sampai mengganggu kepentingan umum, seperti pembuatan keramba atau hampang yang dapat mengganggu lancarnya aliran air, membuat sampah tersumbat, atau mengganggu alur pelayaran. Jika pemanfaatan lahan di perkampungan, jangan sampai pada waktu operasional dan limbah budi daya mengganggu lingkungan sekitarnya.
  • Mempertimbangkan tentang kebutuhan lahan untuk diolah secara teknis sebelum digunakan.

B. Merancang Bentuk Usaha

Rancangan bentuk usaha harus disusun detail, efisien, dan efektif. Karena luas lahan sangat terbatas, penuangan rancangan harus mencermin kegiatan usaha sesungguhnya yang harus dapat menghasilkan keuntungan ekonomis. Berikut beberapa tipe rancangan bentuk usaha yang dapat dipilih untuk kegiatan usaha budi daya ikan. secara

1. Bentuk usaha di perairan sungai

Perairan sungai yang memiliki aliran air sedang (kecil atau besar) dapat digunakan untuk budi daya ikan. Ada beberapa bentuk rancangan yang dapat dibuat di perairan sungai di antaranya sebagai berikut.

  1. Berbentuk hampang. Sistem budi daya ini memagari luasan perairan dari bambu, kayu, atau jaring/waring. Bentuknya tergantung kondisi morfologi dan kecepatan arus sungai.
  2. Berbentuk keramba. Sistem budi daya berupa kurungan dari bambu, kayu, atau waring dengan berbagai bentuk (kubus, balok, dan silindris). Pemasangannya biasanya di tepi sungai, baik terapung, melayang, atau tenggelam.
  3. Berbentuk kolam. Umumnya budi daya berupa kolam yang dibuat di tepi sungai. Bentuknya tergantung kondisi, seperti segi empat, bujur sangkar, atau segitiga.

2. Bentuk usaha di perairan tergenang

Perairan tergenang yang dimaksud adalah laut, waduk, danau, rawa, dan embung. Pembuatan usaha di perairan tergenang yang cukup dalam, khususnya jaring apung, lebih membutuhkan konstruksi yang kuat dan biaya yang lebih besar. Oleh karena itu, pembuatan konstruksi dengan luasan 100 m2 agak kurang memadai atau terlalu kecil walaupun tetap dapat dilakukan. Namun, pertimbangan untung-rugi dan faktor risikonya perlu dilakukan dalam usaha budi daya ikan. Ada beberapa bentuk usaha yang dapat dilakukan di perairan tergenang, yaitu sebagai berikut.

  1. Berbentuk hampang. Biasanya dibuat di tepian perairan yang dangkal. Bentuknya melingkari atau mengelilingi luasan media air dengan ukuran tertentu.
  2. Berbentuk keramba. Biasanya di tepian perairan pada kedalaman yang tidak terlalu dalam.
  3. Berbentuk jaring apung. Usaha dibuat di kedalaman lebih dari 7 m.

3. Bentuk usaha berupa kolam, tebat, atau tambak

Usaha budi daya ikan pada tempat ini paling banyak dilakukan oleh masyarakat karena paling mudah. Ada beberapa bentuk usahanya, yaitu sebagai berikut.

  1. Berbentuk petakan. Bentuk tersebut biasa dilakukan oleh masyarakat pembudidaya ikan.
  2. Berbentuk hampang. Usaha dibuat di dalam petakan kolam atau tambak. Biasanya untuk usaha pendederan, penggelondongan, pentokolan ikan atau udang sebelum dijual lagi atau ditebarkan pada hamparan yang lebih lua
  3. Berbentuk keramba. Usaha dibuat di dalam petakan kolam atau tambak. Biasanya untuk budi daya ikan dan penggemukan kepiting.

4. Bentuk usaha di lahan tanah

Kegiatan usaha di tempat ini paling praktis dan murah serta mudah mengawasinya. Namun, jika usaha dibuat secara permanen dan sebagai kegiatan pembenihan, biaya yang dikeluarkan juga relatif besar. Hal ini disebabkan dibutuhkan sarana yang baik, seperti akuarium, blower, dan aerator.

  1. Berbentuk kolam atau bak permanen untuk pembenihan dan pembesaran ikan.
  2. Berbentuk akuarium untuk pembenihan ikan intensif.

Pasar Ikan

Source : pexels.com

C. Menentukan Jenis Usaha Budi Daya

Pilihan terhadap usaha yang akan digeluti harus tepat. Ketepatan dalam memilih jenis usaha biasanya dilakukan dengan perencanaan yang baik, melakukan uji coba terhadap jenis kegiatan budi daya, dan selalu belajar termasuk dengan para pembudidaya yang telah berhasil. Ada dua jenis usaha budi daya yang dapat diusahakan, yaitu usaha pembenihan dan usaha pembesaran.

1. Usaha pembenihan

Diantara kegiatan budidaya ikan yang cukup sulit adalah pembenihan. Hal ini disebabkan ada perlakuan unsur kebiasaan dari induk ikan pada waktu melakukan pemijahan dan perawatan larva yang sangat rawan terhadap lingkungan yang buruk. Selain itu, perlu keterampilan tersendiri dalam pemijahan beberapa ikan dengan bantuan hormon.

Untuk menjadi pembenih yang ulung tentu harus menguasai teknis pembenihan untuk jenis komoditas tertentu karena beda komoditas akan berbeda pula cara membenihkannya. Agar dapat menguasai pembenihan yang baik, harus memahami beberapa tahapan dalam pembenihan seperti berikut.

a. Memilih induk

b. Jenis pemijahan (alami atau buatan). .

c. Teknik pemijahan.

d. Teknik memelihara benih.

Pola tanam dalam budi daya pembesaran ikan

  1. Monokultur. Merupakan usaha budi daya dengan satu jenis komoditas saja. Pembudidaya dapat lebih terkonsentrasi hanya pada satu komoditas saja, padat penebaran bisa lebih optimal, dan pertumbuhan ikan tidak terganggu dengan ikan lain.
  2. Polikultur. Merupakan usaha budi daya lebih dari satu jenis komoditas yang diharapkan sama-sama memberikan hasil ekonomis yang sama atau sebagai hasil sampingan. Dalam satu media budi daya bisa dihasilkan komoditas bervariatif, dapat dua atau tiga jenis komoditas dan dapat memanfaatkan seefisien mungkin pakan yang ada atau yang tersisa di dalam kolam.

2. Usaha pembesaran

Usaha pembesaran dilakukan untuk usaha budi daya yang tidak memijahkan sendiri. Pembesaran dilakukan untk membesarkan benih menjadi ukuran yang lebih besar lagi atau ukuran konsumsi. Budi daya dapat berlangsung dengan baik jika kebutuhan benih dapat terpenuhi. Kelangkaan suplai benih akan sangat mengganggu jalannya usaha pembudidayaan.

Pola usaha dalam budi daya pembesaran ikan

  1. Sederhana. Kepadatan tebar benih rendah dan pemberian pakan seadanya. Penggantian air juga kadang-kadang sehingga hasil yang didapat rendah. Usaha ini dilakukan karena keterbatasan keterampilan dan modal.
  2. Semi intensif hingga intensif. Kepadatan tebar benih relatif tinggi dengan pemberian pakan sesuai dengan takaran dan penggantian air dilakukan sesering mungkin. Pembudidayaan dengan sistem ini akan memperoleh hasil cukup tinggi. Pelaku usaha biasanya telah memiliki keterampilan (skill) dan modal yang cukup. Selain itu, pembudidaya telah melakukan kegiatan usaha dengan manajemen yang lebih teratur dan perhitungan untung ruginya sudah diterapkan dengan baik

*) Sumber


Cahyo Saparinto, Penebar Swadaya, Jakarta 2013

Subscribe...

Masukkan e-mail untuk mendapatkan artikel terbaru

Atau follow kami di :

Tentang Taman Pustaka

Taman Pustaka adalah website yang membahas tentang pelajaran sekolah, madrasah dan pengetahuan umum. Taman Pustaka juga sebagai media pembelajaran bagi para siswa, santri, mahasiswa, serta masyarakat umum yang ingin mengembangkan pengetahuan. pada setiap artikel di taman pustaka di lengkapi gambar dan video agar kandungan materi dalam artikel dapat lebih mudah dipelajari.